Wisatawan Enggan Datang Karena Covid-19 Kemenparekraf  Kebanyakan Habiskan Anggaran Sosialisasi

etabloidfbi.com – Danau Toba.

Menghadapi tatanan era new normal selama Pandemi covid 19 khususnya di kawasan Pariwisata Danau Toba, sektor meeting/pertemuan, incentive/insentif, convention/konvensi and exhibition/pameran (MICE), yang berhubungan dengan Panduan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Protokol Kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), namun disaat musim sepi dalam kunjungan wisatawan, justru Kemenparekraf jorjoran membuat sejumlah pertemuan berbagai sosialisasi yang seharusnya diserahkan kepada Pemkab sekawasan Danau Toba saja cukup, tidak harus menghabiskan anggaran hanya untuk sosialisasi yang kebanyakan waktu duduk dan menghabiskan anggaran, sementara wisatawan manca negara dan lokal tidak pernah muncul, lalu untuk apa?.

Demikian disampaikan P Saragi (48), di Parapat, Kamis (18/2/2021) sembari menyampaikan bahwa kegiatan Dinas Pariwisata Sumut di Niagara Hotel itu terkesan menghamburkan anggaran Negara, sebab jauh sebelumnya Pemkab sekawasan Danau Toba melalui Dinas Pariwisatanya sudah melakukan berbagai sosialisasi terkait Kebersihan, Sanitasi, Kesehatan, dan protokol kesehatan lainnya baik bagi para pengusaha Hotel, Karyawan Hotel, Tokoh Masyarakat dan pemangku lainnya terlebih kepada pelaku wisata di Daerahnya masing-masing tahun 2020 lalu.

“Mubajir jika pemerintah hanya melakukan Cakap-Cakap Saja, tapi wisatawan yang berkualitas tidak muncul, padahal kita sudah persiapkan diri, menyambut wisatawan di kawasan Danau Toba, sebenarnya yang kita butuh adalah promosi agar tamu percaya dan mau datang, bukan sekedar sosialisasi”, Ujarnya.

Jadi masih menurut Saragi, bahwa ketentuan yang termuat dalam panduan pada protokol dan panduan yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia, World Health Organization (WHO), Travel & Tourism Council (WTTC) serta Asosiasi MICE nasional dan internasional seperti ICCA, UFI, AIPC, serta ASPERAPI dikawasan Danau Toba bukan barang langka lagi, tetapi peralatan dan faktor pendukung untuk itu yang sebenarnya harus disediakan Pemerintah melalui Kemenkraef, bukan hanya ‘Cakap-Cakap Doang’ di Hotel berbintang, itu hanya habiskan anggaran untuk Chek Inn dan Chek Out dari Hotel tersebut, plus Uang Duduk dan demi Surat perjalanan Dinasnya lalu Cair, itulah dugaan kita,” Ujarnya.

Saat Kementrian Pariwisata ekonomi kreatif /badan pariwisata ekonomi kreatif (Kemenparekraf/baparekraf) menggelar sosialisasi dan simulasi panduan pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan untuk Penyelenggaraan Kegiatan Pertemuan, Insentif, Konvensi, Dan Pameran (MICE) di Destinasi Super Prioritas Danau Toba – Sumut, sekaligus Famtrip dengan jurnalis luar kawasan Danau Toba tanpa melibatkan jurnalis lokal, diadakan di Niagara Hotel Parapat, oleh Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Sumatera Utara dr Ria Telaumbanua melalui Daring (teleconference) ini di hadiri peserta Luring dalam ruangan sebanyak 70 orang, termasuk dari Dinas Pariwisata sekawasan Danau Toba, HPI, ASPPI, PHRI, Akademisi, dan para jurnalis yang di datangkan dari luar daerah kawasan danau Toba, dan pelaksanaan sosialisasi CHSE dan MICE di DSP Danau Toba ini ‘yang ditegaskan dengan kata’ dalam rangka promosi Pariwisata Danau Toba, disampaikan  Ria melalui teleconference.

Selanjutnya Titi Wahyuni selaku koordinator promosi dan pendukungan MICE Direktorat wisata Deputi bidang produk wisata dan penyelenggaraan event, mengatakan kegiatan ini merupakan sosialisasi dan simulasi serta promosi CHSE yang di adakan di wilayah Destinasi Pariwisata Danau Toba, untuk kebijakan pemulihan pasar wisata nusantara khususnya Danau Toba.

Komunitas wartawan Danau Toba menyayangkan sikap panitia kemenparekraf yang tidak melibatkan jurnalis lokal yang lebih memahami seluk beluk dan peliknya dunia pariwisata di kawasan danau Toba, karena saban hari berada dan bahkan melekat dengan wisata Danau Toba, sayangnya Wartawan lokal kawasan danau Toba yang juga bernaung dibawah payung sejumlah Media nasional itu menyayangkan kegiatan tersebut sebab tak disertakan berkontribusi dalam kegiatan promosi daerahnya sendiri.

Sihotang salah seorang jurnalis lokal dari koordinator media kawasan Danau Toba khususnya Parapat sangat menyayangkan kegiatan yang di gelar oleh pihak pemerintah karena jurnalis lokal tidak dilibatkan oleh panitia kemenparekraf, yang seharusnya jurnalis lokal sebagai ujung tombak promosi bergandengan dengan kemenparekraf dan BPODT.

“Kita sangat menyayangkan sikap pemerintah baik dari panitia kemenparekraf yang melaksanakan acara maupun dinas pariwisata propinsi dan kabupaten, yang seakan akan jurnalis lokal tidak memiliki ruang sebagai mitra pemerintah karena sering kita lihat kegiatan pemerintah pusat dan provinsi selalu mendatangkan jurnalis dari luar kawasan Danau Toba, kita berkecil hati   kalau seterusnya seperti itu sikap pemerintah,” ungkap Sihotang kesal saat ngopi bareng dengan jurnalis lokal di Parapat.

Bakkara rekan media lain senada dengan yang disampaikan Sihotang, bahwa jurnalis lokal lebih mengerti apa sebenarnya yang terjadi di kawasannya dan bukan jurnalis luar, sehingga Pemerintah atau siapapun yang mengadakan kegiatan di wilayah Danau Toba maka jurnalis lokal harus dilibatkan untuk promosi bahkan kalau bisa di rangkul untuk bersinergy dalam kegiatan itu.

“Inilah kadang kita sering berseberangan dengan pemerintah atau yang buat kegiatan, mereka anggap jurnalis lokal itu tidak ada di kawasan Danau Toba,” Kata Bakkara.

Pada kesempatan itu rekan rekan jurnalis sekawasan Danau Toba di Ajibata Parapat, berharap kepada pemerintah atau penyelenggara acara agar tidak dipandang sebelah mata kemampuan para jurnalis lokal yang ada di kawasan Danau Toba. (Feri)

Tinggalkan Balasan