Waspadai Putus Sekolah, 69% Orang Tua Anak TBM Lentera Pustaka Bogor Pekerja Informal.

etabloidfbi.com Bogor.-

Taman Bacaan di manapun harusnya hadir bukan hanya untuk menjadi tempat membaca anak-anak usia sekolah. Tapi jauh lebih penting adalah untuk menekan angka putus sekolah. Maka di era yang katanya serba digital, eksistensi taman bacaan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada aktivitas membaca semata. Karena ada agenda lain yang bisa menyebabkan lemahnya keberadaan taman bacaan. Yaitu, tidak adanya anak-anak yang membaca.

Harus disadari, taman bacaan adalah prasarana yang menunjang aktivitas belajar dan sekolah anak-anak. Setelah pulang sekolah, maka si anak bisa melakukan aktivitas tambahan untuk membaca buku di taman bacaan, Agar pengetahuan dan wawasannya bertambah, rabu 1/7/2020.

Tapi aktivitas taman bacaan menjadi seakan “mati suri”. Akibat angka putus sekolah di suatu wilayah masih tergolong tinggi. Maka taman bacaan pun harus mengenali kondisi demografi masyarakatnya sendiri. Apakah ada potensi atau tidak terjadinya putus sekolah? Karena bila itu terjadi, maka “kiamat’ akan menimpa taman bacaan.

Sebagai contoh, survei internal yang dilakukan Taman Bacaan Masyarakat {TBM} Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Dari 45 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka yang sudah mengisi survei internal, saat ditanya apa pekerjaan orang tua mereka?
Maka jawabannya dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • 35,6% orang tuanya tidak bekerja/tidak bekerja tetap
  • 20% peladang/petani
  • 13,3% pedagang
  • 31,1% pegawai tetap.

“Survei TBM Lentera Pustaka ini artinya, 69% orang tua anak-anak yang membaca bekerja di sektor informal. Sektor informal adalah sektor yang paling rentan dengan kemiskinan sehingga akan berdampak pada potensi terjadinya putus sekolah. Maka taman bacaan harus waspadai kondisi itu” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka.

Karena pekerjaan orang tua di sektor informal, sangat memungkinkan terjadinya kondisi keluarga si anak yang: 1. mengalami masalah ekonomi sehingga jadi sebab ketidakmampuan orang tua untuk membiayai kebutuhan sekolah, 2. rendahnya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak hingga level SMA misalnya akibat pekerjaan yang tidak menentu, dan 3. belum adanya kepedulian yang optimal dari berbagai pihak, termasuk perangkat pemerintah daerah dan para donatur untuk menyelamtkan masa depan anak-anak yang terancam putus sekolah.

Apalagi di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor. Angka statistik menunjukkan bahwa rerata tingkat pendidikan masyarakat pada umumnya tamat SD mencapai 81,9%, tamat SMP 8,9%, dan tamat SMA 8,3%. Itu berarti, sekitar 90,8% tingkat pendidikan masyarakat hanya sebatas SMP. Akankah “sejarah lama putus sekolah” akan terus berulang hingga tahun-tahun ke depan? Sungguh, pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Oleh karena itu, taman bacan di manapun, seperti TBM Lentera Pustaka memiliki tanggung jawab moral untuk mengenali demografi masyarakat di mana taman bacaan itu berada. Agar dapat “membaca” potensi dan tantangan yang bisa terjadi di kemudian hari. Taman bacaan harus lebih kreatif. Sehingga harus siap mengubah pola dan menanamkan kesadaran yang bukan hanya mengajak anak-anak untuk membaca. Tapi mampu menggugah kesadaran anak-anak untuk tetap sekolah, dalam keadaan apapun.

Sejatinya, taman bacaan harus ikut andil dalam menyelamatkan masa depan anak-anak. Suka tidak suka, taman bacaan bukan hanya untuk meningkatkan tradisi baca semata. Tapi juga untuk mengkampanyekan pentingnya belajar dan sekolah. Agar jangan ada anak-anak putus sekolah. Apalagi di zaman yang katanya serba modern dan serba digital seperti sekarang.

Taman bacaan harus mencari cara. Sebagai solusi untuk mencegah angka putus sekolah. Maka sikap komitmen dan konsisten sangat diperlukan pengelola taman bacaan. Tentu, dengan dukungan berbagai pihak yang peduli. Karena apapun keadaanya, “berbuat untuk masyarakat tetap lebih baik daripada berdiam diri”. {BI}

Tinggalkan Balasan