Warga Jln SM Raja Parapat Kirim Surat Ke Polisi Dan DPRD : Pemenang Tender CV Guruh Medan Harus Bertanggung Jawab

etabloidfbi.com – SIMALUNGUN.

Pengerjaan proyek saluran parit (Drainase) kiri-kanan di Jl.SM Raja (Jalinsum Parapat) yang dikerjakan oleh pemenang tender atas nama CV GURUH beralamat di Jl.SMA II No. 8 LK. VI Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia berbiaya sekitar Rp 5M, namun operandinya dilapangan dikerjakan asal jadi dan oleh masyarakat sudah membuat surat Pengaduan Masyarakat (Dumas) ke Polsek Parapat dan sudah juga diberitahukan ke Polres Simalungun.

Demikian disampaikan salah seorang warga bermarga L Sidabutar (40), di Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Senin (16/11/2020), karena proyek ini tidak berkualitas dan kuantitasnya sangat diragukan, dan ada baiknya tim Polres Simalungun yang membuktikan itu nanti dilapangan, Katanya.

Adapun isi surat laporan dan keberatan melalui surat ‘Pengaduan Masyarakat’ itu, tertanggal 25 Oktober 2020 langsung ditujukan kepada Kapolres Simalungun berisikan,
Sehubungan dengan program dari Pemerintah pusat bahwasanya kawasan Danau Toba, menjadi kawasan wisata super prioritas, maka dengan itu kami masyarakat Parapat khususnya warga sekitaran Jln. Sisingamangaraja Parapat, ikut menyambut dan mendukung penuh program tersebut, dimana didalam salah satu program itu adalah perbaikan saluran air (saluran parit kota) dan pedestrian (trotoar) disepanjang jalan Sisingamangaraja Parapat.

Tetapi setelah kami melihat sistem dan cara pekerjaan yang dilakukan oleh pihak
kontraktor yang dihunjuk untuk menangani projek ini, kami (warga) merasa banyak
kejanggalan dan kekurangan dalam cara pekerjaan projek tersebut, antara lain;

  1. Perbedaan bahan yang digunakan oleh kontraktor yang mengerjakan projek saluran air di Jl Sisingamanagaraja dengan pekerjaan yang sama ditempat yang lain yang menggunakan pasangan batu kali, sementara di tempat lainnya menggunakan bahan Plat beton.

  2. Kenapa pekerjaan projek ini terlalu lama? (terhitung dari bulan April sd sekarang) membuat ktivitas kami terlalu lama terganggu.

  3. Pihak projek tidak mengantisipasi analisa dampak lingkungan (AMDAL) karena volume debu dari pekerjaan projek sangat tinggi, dimana warga pada umumnya pedagang, warung kopi rumah makan dengan sisitim rumah terbuka.

  4. Kemudian mengapa bahan material projek yang diletakkan di pinggir jalan dan tidak diberi tanda-tanda rambu peringatan.

  5. Sisa tanah bekas korekan hanya diletakkan begitu saja didepan rumah warga.

  6. Lantai dasar parit masih dikerjakan setengah, tetapi langsung di Cor dari atasnya.
  7. Lobang kontrol pada parit jaraknya sangat jauh.

 

Surat keberatan ini dibubuhi tanda tangan perwakilan warga Jln. SM Raja Parapat K.Sirait, B.Sidabutar dan Br. Tobing.

Dilain pihak, sebahagian warga juga berharap untuk mengecek keberadaan kantor pemenang tender tersebut, apakah kantor itu ada di alamat tersebut, karena setelah kami chek di Google Map, alamat diatas kok seperti hanya warung kopis saja, Ujar M Sinaga menimpali.

Anehnya lagi, ada bocoran informasi dimana dalam kontrak awal disebut bahwa Proyek APBN Rp1.5 Miliar ini dipimpin oleh Pejabat pembuat Komitmen (PPK) Mujasman , ST. lalu memakai jasa Konsultan Supervisi PT. MONO HEKSA KSO PT. SECON yg dipimpin oleh Deky Herianto, ST. MT sekaligus sebagai Site Engineer dan Inspector Engineer Ir. Ramses Panggabean. Hotben Sitinjak, ST sebagai Quality, lalu sebagai Quantity adalah ST. Kusumojati, ST , nah perihal kesehatan dan keselamatan kerja K3/HSE , ternyata dilapangan ada yang tak beres, dan silahkan di chek apakah kelengkapan struktur ini jelas atau hanya diatas kertas belaka, ada baiknya ditelusuri saja, karena amatan kami sebahagian diantara struktur itu semu, padahal sudah diberi bugjeting (Upah perbulan) dari Negara, Ujar warga lainnya bermarga Sirait.

Keraguan terkait kantor pemenang tender atas nama CV Guruh yang berdomisili di Medan itu, kini jadi bahan perbincangan hangat di Parapat, sebab selain pengerjaan ini terkesan lamban dan tak berkualitas, pekerja proyek ini pun sepertinya tidak lagi memakai tim ahli, dan pekerja kerab gontaganti, untuk itulah kami Harapkan juga kepada Kapolres Simalungun AKBP Agus Waluyo, supaya dapat meluangkan waktunya melihat proyek senilai Rp 5M lebih ini sebab Polri adalah bagian dari pengawasan program pemulihan ekonomi hingga tingkat daerah, jika begini cara kerja si Pemborong itu, bagaimana ekonomi Rakyat bisa pulih, dengan cara kerja lambat seperti ini, Jadi pak Kapolres dapat mengkordinasikan ini dengan Kepala Balai 1 Sumut yang kami dengar bermarga Simanjuntak, Ujar Sirait.
Beda lagi dengan komentar Burju Sidabutar, menurutnya kenapa proyek ini tidak menggunakan plat beton U, Knapa pake pasangan batu koral?, Ini kan pusat kota, sementara ditempat lain menggunakan plat beton U,” Katanya.

Burju juga mempertanyakan perihal gambar besteknya, dan nepotimsme pihak PUPR yang membeda-bedakan proyek drainase ini dengan lokasi lain, anehnya lagi jarak lobang kontrol tidak logika, mereka dini buat 100m per lobang kontrol, lalu jikal terjadi penyumbatan, orang yg masuk ke dalam bisa mati, lho!. Kata Burju yang juga dedengkot Karang Taruna Parapat itu.

Saat dikonfirmasi, Kapolres Simalungun AKBP Agus Waluyo menyampaikan, akan memperhatikan itu, dan kepada warga diharapkan tetap bisa mengawasi pekerjaan mereka, Terimakasih infonya Ujar Kapolres. (Feri)

Tinggalkan Balasan