Taman Baca Dan Taman Bermain di Kolong Jembatan Layang Ciputat

Tangsel – etabloidfbi.com

Taman tersebut dikelola oleh Komunitas Taman Baca Masyarakat (TBM) Kolong jembatan layang Ciputat ini menyediakan fasilitas seperti tempat olah raga sepakbola dan perpustakaan dengan berbagai buku yang mendukung masyarakat yang diharapkan untuk meningkatkan minat baca anak -anak jalanan dan masyakarat yang ada di jembatan kolong.

Hadirnya taman baca di kolong ini ikut mendukung pandangan negatif tentang kolong yang rusuh dan kumuh. ” Kami masyarakat sangat membutuhkan suasana, hiburan bahkan tempat membaca sambil nongkrong seperti ini.’ ungkap Tarjo sopir angkot kepada awak media saat terlihat melepas lelah sambil mencari buku bacaan.

Suasana di bawah kolong jembatan ini mirip seperti taman pendidikan anak usia dini. Ada perosotan. Rumput plastik berwarna biru menjadi alas lantai beton. Ada juga lapangan futsal. Di samping itu, ada di dalam ruangan 3 x 3 meter yang berisi buku-buku.

Sementara itu pengunjung dari luar Ciputat mengatakan kepada awak media, bahwa ia tidak menyangka kolong jembatan layang ini akan bersalin rupa. ” Bener saya kaget setelah liat kolong ini, betapa tidak, ” lima tahun kolong jembatan layang ini masih berbentuk tanah merah, menjelang malam datang, kolong ini menjadi tempat duduk anak jalanan.” Cerita Awang pengunjung Taman baca ini

Awalnya Pada tahun 2016, komunitas Orang Indonesia (OI) Tangerang Selatan, penggemar Iwan Fals, mulai gotong royong menata kolong yang mulai kumuh. Tiang jembatan dicat dan ditulis dengan pesan moral, Salah satu pesan moral itu bertuliskan, “Jangan Lupa Bahagia.”

Lalu, bergabunglah bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta. Mereka memutuskan membuat taman baca masyarakat. Kelompok ini bernama Komunitas FISIP Mengajar.

“Waktu itu, kami melihat menurunnya minat baca bukan karena anak-anak malas, tetapi akses mereka terbatas terhadap bacaan,” kata Vina salah satu inisiator Taman Baca Masyarakat (TBM) Kolong, saat dihubungi awak media

Hingga tahun 2017, bisa menjawab tidak ada anak-anak yang mengunjungi taman baca ini. Stigma negatif tentang kolong jembatan yang masih melekat di benak disimpan anak-anak yang bermukim di sekitar jembatan.

Anggota komunitas pun berinisiatif untuk “shuttle bola”. Mereka mengunjungi rumah anak-anak itu, menjelaskan tentang mereka agar mau mengajak bermain di taman baca. Ini juga tak mempan. “Kami sering ditolak dan sering diledekin,” ungkapnya lebih lanjut.

Kegiatan di taman baca ini pun dievaluasi. Mereka menyetujui, jika aktivitas hanya membaca tok , barangkali akan sulit untuk meyakinkan anak-anak bermain ke taman baca.

Inovasi pun dilakukan. Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu diadakan bimbingan belajar, dilanjutkan dengan hari Minggu kreasi. Kegiatannya mendongeng, membuat kerajinan tangan. “Pokoknya kegiatan-kegiatan yang menarik buat anak-anak,” jelasnya menceritakan

Ternyata dengan kegiatan tersebut kami membuahkan hasil, para anak-anak jadi lebih semangat.

Kini nampak terlihat begitu indah suasana dikolong jembatan layang Ciputat, Tangerang Selatan, Semoga para dermawan mengulurkan tangan untuk menyumbangkan Buku bacaan agar lebih menambah minat baca anak-anak yang berkunjung (Ag)

Tinggalkan Balasan