Pungutan Retribusi wisata kota Parapat di stop warga

Simalungun Sumatera Utara, TFBI.

Warga Parapat dan tamu yang datang melalui gerbang masuk Parapat dikejutkan seketika saat mulai diberlakukan lagi Retribusi masuk gerbang Parapat oleh Pemda Simalungun (03/06/2019).


Belum berlangsung setengah hari setelah dibuka posko pengutipan retribusi masuk gerbang Parapat yg letaknya 200 meter dari gerbang Parapat Persis depan Wisma Jangkar Parapat dimana di lakukan oleh UPT Dinas pendapatan dengan personil Kantor Camat Girsang Sipanganbolon, sudah langsung viral di masyarakat Girsang Sipanganbolon, bahwa pintu gerbang Parapat kembali di berlakukan retribusi masuk oleh Pemerintah Kab Simalungun. Tapi seluruh masyarakat Parapat menolak semua jenis kutipan retribusi masuk gerbang Parapat, karena warga sadar retribusi itu sangat berpengaruh dan menurunkan tingkat kunjungan wisata ke Parapat, dimana ditambah lagi dalam 1 tahun terakhir ini Kota Parapat bagaikan kota mati dan tak ada aktifitas berarti setelah kejadian KM Sinar Bangun bulan Juni 2018 dan Longsor Jembatan si dua-dua bulan Desember 2018 , sehingga sekarang masyarakat Parapat sangat mendambakan hiruk pikuk tamu yang berkunjung di kota Parapat.

“Kalau pemerintah memberlakukan retribusi itu lagi maka dipastikan Parapat tidak akan bangkit dari keterpurukannya,” terang Yeni Purba saat berbincang di warung nya.


” Untuk di ingat kembali bahwa Retribusi Gerbang Parapat sebelumnya memang ada dan telah berjalan sesuai Perda Tahun 2011 no 9 tetapi karena ulah segelintir oknum petugas retribusi menaikkan tarif saat itu pada bulan Juli 2016/idul Fitri 1437 H, jadi Bupati JR Saragih memerintah untuk menutup loket dan menggratiskan karcis pintu masuk Parapat sejak saat itu hingga sekarang. Tapi ditambah lagi yang membuat geram warga dimana Pemkab Simalungun bersikukuh menginstruksikan untuk melakukan kembali pungutan retribusi tanpa kordinasi dengan warga dan pelaku Pariwisata di Parapat, yang sebenarnya warga Parapat bukan tidak mendukung program pemerintah tentang karcis gerbang masuk diberlakukan, karena sangat mendukung PAD, tetapi alangkah baiknya momen lebaran ini dijadikan dulu sebagai permulaan atau awal promosi Parapat mulai dari titik nol sehingga bisa kita kembalikan marwah pariwisata Parapat lagi,¬†namun kalau diberlakukan kedepannya ya silahkan tapi harus bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan benar masuk ke PAD, kalau bisa Pemkab Simalungun melakukan kordinasi kepada warga dan penggiat/pelaku pariwisata untuk menampung aspirasi sebagai acuan dibuka atau tidak Posko retribusi wisata itu,” pungkas salah seorang warga Boru Sinaga.


Makanya secara spontan warga tanpa ada komando akibat dari tindakan semena mena penguasa tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat, maka mereka mendatangi posko karcis yang didirikan oleh Pemkab, sambil menyampaikan aspirasinya bahwa Parapat butuh penangan khusus untuk mendatangkan kembali tamu bukan melakukan pungutan yang tak tentu tujuannya.
(Feri)

Tinggalkan Balasan