“PJ KEPALA DESA PELEM BONGKAR PAKSA MAKAM KIYAI SURYAT SUYONO PESANTREN ABAH IMAM MAKSUM WATU GEDEK”

Tulung Agung, TFBI. —

Sangat tragis dan memilukan Kiyai Suryat Suyono sudah dikebumikan di tanah milik sendiri, sebelah masjid yang dibangunnya sendiri dipermasalahkan oleh Pj Kepala Desa Pelem, ini melukai ahli waris, santri dan umat islam seluruh dunia.


Sebelum wafatnya Almarhum Kiyai Suryat Suyono berpesan pada ahli warisnya (kiyai Gus Imam Maksum) tadi kiyai Maimun Zubair (mbah mun) sudah pulang menghadap Allah Swt, Mbah juga mau ikut ya, anak ahli waris pada menangis, pada hal berita Mbah Mun belum Viral di media, hitung beberapa jam Kiyai Suryat Suyono (Mbah) juga menghembuskan napas terakhir menghadap Allah Swt, sudah selesai tugas saya di dunia ini, maka anak anakku dan santri meneruskan perjuangan pesantren ini, selain dari itu berpesan makamkan saya di lingkungan pesantren dan sebelah masjid yang dibangunnya sendiri. Kondisi embah baik secara Fhisik kata ahli warisnya, hanya mengetahui berita mbah Mun meninggal dari goib saja, dan Mbah menyampaikan pamit kepada ahli warisnya.


Yang anehnya dari peristiwa pembongkaran paksa MUSPIKA Campur Darat tutup mata malah membantu bongkar paksa makam tersebut, dengan menyodorkan surat pernyataan untuk ditanda tangani oleh ahli waris agar dibongkar sendiri, ahli waris merasa tertekan dan tidak Rhido makam Mbah di bongkar yang sudah beberapa hari di kebumikan.


Penasehat hukum (PH) Kiyai Gus Imam Maksum (ahli waris), saudara DR Dato’ KRA. Yudi Relawanto, SH. MBA. Dari Jakarta sedang dalam perjalanan dari bandara Juanda ke lokasi Makam,

berbicara dengan Kabag Ops Polres Tulung Agung yang tidak menyebutkan namanya, PH meminta waktu karena masih dalam perjalanan, namun tidak menghargai permohonan PH dari Jakarta, untuk menunda pembongkaran makam tersebut namun di indahkan permihonan PH itu.


Kami dari TFBI menghubungi PH bahwa menjelaskan bahwa ahli waris dan santri akan menempuh jalur hukum, karena NKRI ini adalah negara hukum, pada hal ribuan santri ingin melakukan perlawanan namun kiyai penerus selaku ahli waris melarangnya. Muspida satupun tidak dapat dihubungi sampai berita ini kami angkat.


Harapan TFBI kiranya Muspida kabupaten Tulung Agung segera melakukan sidak di lapangan agar pristiwa ini tidak meluas ke beberapa daerah sekitar, karena peristiwa ini melukai hati ahli waris dan umat islam pada umumnya. (YDR)

Tinggalkan Balasan