Pengamat Sosial dan Kemanusian Rohmat Selamat, SH, M.Kn, Bank Keliling Harus Di Hentikan

Cibinong, Bogor, TFBI. —

etabloidfbi.com–Pedagang Nasi Uduk diujung gang sebut saja Mpok Romlah, terlihat manyun sambil mengaduk Kopi Hitam Pesanan Saya. Kusut mukanya tidak seperti biasanya. Pedagang Nasi Uduk yang berdandan milenial ini berjarak 5 kilo dari Gedung Rakyat, seperti menyimpan persoalan tersebuy yang tak kunjung terpecah, Cibinong 13/2020.

Rohmat Selamat, SH, M.Kn sebagai Pengamat Sosial dan Kemanusiaan, saya merasa miris melihat hal ini yang terjadi. Sebagai konsumen yang sudah mengenal Mpok Romlah cukup lama, saya mencoba memberanikan diri untuk bertanya apa yang menyebakan muka kusut, Mpok, kenapa dari tadi manyun saja? Kopi pesenan saya dari tadi diaduk-aduk kagak selesai?” tanya Saya kepada Mpok.

Akhirnya Mpok Romlah menjadi kaget dan sambil tersenyum agak kecut, dia coba buka suaranya kepada saya, maaf bang, tidak sadar sayanya diaduk-aduk terus kopi pesanannya, memang ada masalah ape mpok, biasa bang lagi pusing ni, mana hari ini harus bayar Bangke, sudah tiga hari ini saya belom setoran, Kata Mpok.

Banke atau Bank Keliling istilah Mpok Romlah, merupakan fenomena yang blum ada solusi di wilayah kami. Disini ibu-ibupun yang mengalami kesulitan keuangan, akan memilih Bank Keliling sebagai solusi jalan tercepat. Prinsip dalam mengalami masalah timbul masalah, rupanya tak terfikirkan oleh kaum ibu-ibu nasabah Banke, yang penting ada solusi uang cash sudah di depan mata.

Taukan… Bangke atau Bank Keliling untuk meminjam uang, syaratnya mudah tak berbelit-belit, cukup tau rumahnya saja. Dan Bank Keliling langsung menggelontorkan duitnya.

Dengan alasan malu pinjam tetangga atau saudara, mereka lebih memilih Bank Keliling, meski pada akhirnya bikin pusing tujuh keliling. Mudahnya persayaratan dan cara pembayaran yang dicicil harian, membuat ibu-ibu banyak terjebak Bangke tersebut.

Misalnya nih, kalau kami pinjam Rp 400 Ribu, maka pengembaliannya bisa dicicil Rp 20 Ribu per hari selama 30 hari. Artinya total pinjaman yang mereka harus bayar yang semula Rp 400 Ribu bisa menggendut menjadi Rp 600 ribu atau bisa lebih parah….

Pada saat terjadi transaksi pinjaman, si peminjam tidak utuh menerima Rp 400 Ribu, namun ada potongan yang katanya untuk biaya administrasi dan tabungan.

Fenomena sosial ini, rupanya sudah merebak dimana mana. Banyak ibu-ibu kepepet yang tergoda tawaran Banke ini. Dan konyolnya lagi ada ibu-ibu yang menjadi mediator Banke untuk ibu-ibu yang sekitarnya.

Karena cara pembayaran yang dianggap ringan dalam perhari, anggap seperti uang jajan, maka ada beberapa ibu-ibu yang memilih tak bilang pada suaminya. Pikirnya, urusan keuangan rumah tangga kan ditangan istri, jadi suami tidak perlu tahu dan semua bisa diatur.

Menjadi masalah besar sekarang adalah, menjadi ketagihan meminjam Bank Keliling. Bukan hanya satu Bank Keliling saja yang menawarkan pinjaman, bahkan ada puluhan Bank Keliling yang beroprasi.

Kecanduan Banke ini, membuat kebablasan akhirnya pinjaman membengkak jadi jutaan rupia, memilih gali lubang tutup lubang, alias meminjam baru untuk menutupi pinjaman lamanya.

Maka tak biasa bayar, bisa seharian dia mengurung diri dikamar seakan akan bepergian. Bisa lebih dari 1 motor penagih yang nongkrong didepan rumahnya. Kondisi seperti ini akhirnya membuat runyam. Setelah ketahuan Suami, akhirnya Suami marah dan memilih bercerai karena tidak tahan dengan kelakuan istrinya yang kecanduan pinjam Bank Keliling.

Bagaimana agar fenomena Banke ini tidak semakin mewabah seperti virus Corona dan menjerat kaum ibu kecanduan Bank Keliling yang kesulitan keuangan, sudah saatnya pemerintah atau instansi terkait turun tangan, untuk mengajarkan ibu-ibu menjalankan ketrampilan dengan menciptakan peluang usaha baru, bisa bermanfaat untuk menggerakkan roda perekonominya.

Atau paling tidak, setiap RT/RW memiliki lembaga keuangan sendiri seperti Koperasi untuk mengatasi keuangan warganya. Dengan cara ini bisa menjerat Banke untuk tidak beroprasi lagi.

Dalam hal ini seharusnya Peran MUI lebih menyikapi, ditingkatkan untuk penyadaran bersama terkait bahaya Riba yang menjamur kepada ibu-ibu tersebut. Jangan biarkan para penggoda pinjaman ini masuk ke wilayah Anda, karena mereka beroperasi mencari keuntungan, bukan niat ingin menolong tetapi menghancurkan, Tegas Pengamat Sosial dan Kemanusiaan. (Boegeiss)

Tinggalkan Balasan