Pelatihan Koperasi Dan UMKM di Danau Toba, mengundang tanya peserta pelatihan

etabloidfbi.com – Danau Toba.

 

Kegiatan pelatihan Koperasi  UMKM yang di laksanakan selama tiga hari di kawasan Danau Toba Parapat telah di buka langsung oleh menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, namun kegiatan itu mengundang tanda tanya oleh beberapa peserta pelatihan saat penyerahan sertifikat di lokal masing masing pada hari Kamis (27/08/2020).

Beberapa peserta heran dan penasaran saat memperhatikan sertifikatnya, Pasalnya kegiatan pelatihan yang telah dijadwalkan berlangsung mulai tanggal 25-27 Agustus 2020 namun dalam sertifikat tertulis tanggal 25-28 Agustus 2020.

Hal ini sempat dipertanyakan David salah seorang peserta pelatihan,Dia heran kegiatan pelatihan yang nyatanya hanya di laksanakan selama tiga hari, tapi bisa tertulis di sertifikat selama empat hari.

“Kenapa ya bang tanggal sertifikat ini melewati tanggal pelatihan, dimana tercatat 4 (empat) hari namun kenyataan pelatihan hanya selama 3 (tiga) hari, ada apa dengan sertifikatnya dan kenapa tidak di tulis sesuai yang sebenarnya, atau ini salah tulis?” tanya Pasaribu.

Penasaran dengan tanggal yang tertulis di sertifikat, David menyampaikan kepada peserta lain dan mencoba bertanya kepada Pundro salah seorang panitia, di lokal pelatihan kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif, dan beberapa orang bertanya tentang perbedaan tanggal tersebut.

Pundra menjawab pertanyaan peserta bahwa tanggal 25-28 di sertifikat tertulis karena tanggal itu terhitung sampai staff tiba dijakarta besok tanggal 28 Agustus 2020″ Kita tulis sesuai tanggal saat tiba di Jakarta bang,” ungkap Pundro.

Tapi dari jawaban panitia itu peserta merasa tidak puas dan tidak masuk akal tentang tanggal yang di maksud.

Hal lain juga muncul dan menjadi pembahasan para peserta tentang pembagian kelas yang tidak sesuai dengan bidang masing masing.

Junaidi salah seorang pelaku UMKM dari Kerasaan Pematang Bandar bidang furniture mengatakan kekurangpuasannya atas penempatan kelas yang dia ikuti karena tidak dibidang yang dia minta.

“Saya lemas bang karena kelas yang saya ikuti tidak sesuai dengan penempatan profesi saya bagian furniture, awalnya saya mau ikut pelatihan ini untuk pengembangan usaha sesuai poin pelatihan yang di tawarkan, kalau begini tidak sesuai dengan bidang saya, belum lagi kerugian saya dari sisi waktu dan materi, karena apapun materi saya tidak masuk akal” ungkap Junaidi.

Terkait peserta pelatihan yang kebanyakan terjadi salah penempatan kelas, yang sebelumnya Panitia lokal dari dinas terkait menjelaskan bahwa penempatan itu di karenakan jumlah tiap kelas mengalami kekurangan peserta bila di ikuti sesuai profesi dan bidang masing masing, sehingga Panitia mempunyai kebijakan untuk membagi kelas para peserta tanpa berpedoman dari bidang yang diminta sebelumnya. (Feri)

Tinggalkan Balasan