PARAPAT MENJADI KOTA WISATA TRANSIT DI SUMATERA UTARA

Sumatera Utara, TFBI.

Pengunjung di kota wisata Parapat sejak hari raya idul Fitri 1440 H (05/06/2019) sampai hari ini 10/06/2019 terpantau tidak ada keramaian signifikan seperti tahun tahun sebelumnya, momen lebaran tahun ini lebih banyak pengunjung sebatas lintas/transit lalu parkir di kota Parapat untuk menyebrang ke pulau Samosir, terbukti beberapa kantong parkir penyebrangan mobil pengunjung membludak, tetapi hotel tidak ada yg full house dan toko souvenir kosong melompong. Wawancara awak media TFBI Sumut kepada salah seorang pengunjung di Parapat, mengatakan bahwa memang benar tidak ada tamu yg puas bila berwisata ke Danau Toba kalau belum menyebrang ke Pulau Samosir, dimana mobil akan diparkir di Parapat dan naik kapal kesana.

Kami singgah di kota Parapat ini karena lintas aja atau istrahat (transit) sejenak dan hendak ke pantai bulbul dan bukit Gibeon,ucap salah seorang pengunjung yang lewat di depan gerbang pantai bebas Parapat Pak Siagian dan mengatakan lagi bahwa Parapat seolah tidak ada daya tarik lagi untuk berlama lama baik pantai sudah tidak ada fasilitasnya yang instagramble dan apalagi hiburan yg menarik wisata tidak pernah ada,walaupun ada tapi semua dadakan tanpa ada promosi sebelumnya,sambil menunjuk arah pantai bebas dan mengatakan termasuk acara musik yang dipantai itu seolah tidak ada arti karena kurangnya promosi sehingga masyarakat apalagi tamu tidak ada yang tau,termasuk masih ada image Parapat dengan harga yang mahal baik hotel dan rumah makannya,sehingga tamu masih trauma datang.


Pak Siagian juga sambil bermohon pada pihak terkait agar mengatur regulasi harga dan karcis yang berlaku di daerah wisata Parapat ini agar jangan semena mena membuat harga dan tamu tidak merasa tertipu.


Seiring dengan info itu team media TFBI melakukan Survei ke beberapa hotel besar di Parapat bahwa sejak tgl 5 – 8 Juli rata rata ouccupancy yang terisi 80-90 persen saja, dan malahan rumah warga/home stay yang banyak berisi, dari pengakuan salah seorang resepsionis hotel yang tak mau disebut namanya bahwa pengaruh tidak fullnya hotel kemungkinan karena adanya agen jalanan yang sengaja menghambat tamu dengan promo homestay dimana mereka sudah punya link untuk itu, dan dia juga mengharapkan pihak PHRI duduk bersama membahas tentang itu.


Namun berbeda terbalik dengan pengakuan salah satu tamu yang menginap di homestay jalan Talun Sungkit bahwa mereka tidak sanggup menginap di hotel karena harga hotel naik 75 – 200 persen naik dari harga biasa sehingga kami lebih memilih yang murah 300-500 ribu per kamar,ujar pak Anton yg berasal dari Rantauprapat ini.
(Feri)