Even Wisata Ritual Cheng-Beng (Sembahyang Leluhur)

Rohil=TFBI

Ritual Cheng-Beng atau sembahyang kubur merupakan upacara perwujudan dari sikap masyarakat Tionghoa yang sangat mencintai dan menghormati leluhurnya. Seluruh keluarga yang ada ditempat maupun keluarga yang ada diluar(perantauan) berupaya untuk pulang dan melaksanakan ritual ini.

Ada dua tempat perkuburan orang Tionghoa di Bagansiapiapi. Yaitu kuburan Hua San Ting yang terletak di jl.Pusara Hilir, kepenghuluan Bagan Jawa dan kuburan pemakaman Ki Lok Ting yang terletak di jalan Pelabuhan Baru Bagan Barat. Dua tempat pemakaman ini dipadati oleh keluarga penziarah berbagai tempat di ibukota Indonesia. Yang mana selama ini keluarga sudah keluar mengembangkan bisnis di tempat yang berbeda. Kegiatan ritual dimulai dengan membersihkan area kuburan leluhur atau panden dilakukan 10 hari sebelum pelaksanaan Cheng-Beng. Puncak kegiatan dilaksanakan pada tanggal 5 april kalender Masehi.


Kegiatan dilaksanakan sejak dini hari hingga terbit fajar dengan melakukan sembahyang dan meletakkan sesajian berupa aneka buah-buahan(San Kuo) Ayam atau Babi (Sam Sang) arak, aneka kue dan makanan vegetarian (Chai Choi) uang kertas (Kim Chin) dan membakar gaharu (Hio) suasana perkuburan beraroma Hio yang menyengat hidung.
Bagansiapiapi adalah ibukota dari Rokan Hilir (Rohil) pemekaran dari kabupaten Bengkalis. Rokan Hilir menjadi otonomi daerah tahun 2000 dari provinsi Riau. Rokan Hilir memiliki luas wilayah 8.881.59 Km atau 888.159 Hektar. Terletak pada koordinat 1°14′ sampai 2°45′ Lintang Utara dan 100′ 17′ 101° 21′ Bujur Timur berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Kota Bagansiapiapi dihuni semua oleh etnis Tionghoa dan banyak kelenteng-kelenteng tua ditempat ini tapi hidup akur berdampingan dengan suku-suku lain yang ada di Bagansiapiapi, seperti Singkawang di Kalimantan.
Hadirnya etnis Tionghoa di Rokan Hilir, bermula dari tuntutan kwalitas hidup yang lebih baik waktu itu. Sekelompok orang Tionghoa dari provinsi Fujian China merantau menyeberangi lautan dengan kapal kayu sederhana, dalam perjalanan banyak rintangan dengan susah payah akhirnya mereka terdampar didaratan Bagansiapiapi. Sekarang mulailah sekelompok orang Tionghoa dari provinsi Fujian China bertahan hidup di Bagansiapiapi.


Keahlian menangkap hasil laut yang terus berlimpah di export berbagai manca negara. Sehingga terkenal dimata internasional, penghasil ikan terbesar setelah Norwegia. Sampai saat ini etnis dari provinsi Fujian menetap Bagansiapiapi turun temurun. Perubahan siklus iklim Globalisasi banyak anak anak muda Tionghoa meninggalkan Bagansiapiapi mengembangkan hidup di berbagai daerah di Indonesia dan sampai keluar negri.

Konon menurut cerita rakyat asal mula ziarah kubur atau tradisi Cheng-Beng ini sudah berasal sejak zaman Dinasti Han (202 SM – 220 SM), lalu perlahan tradisi ini mulai populer pada zaman Dinasti Tong (618 – 907) tepatnya pada zaman masa ke pimpinan Kaisar Xuanzong namun penggunaan kertas yang diletakkan diatas kubur (sebagai tanda bahwa kubur sudah dibersihkan dikunjungi oleh keluarga).
Berawal dari zaman ke Kaisaran Zhu Yuan Zhong. Pendiri Dinasti Ming (1368 – 1644 M) Zhu Yuan Zhong awalnya berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin.

(Kok Ui – MukhlisMukhlis)

Tinggalkan Balasan