Bambang Diponegoro : Pilpres dan Pileg jadikan sebuah Peristiwa Budaya

Jakarta – FBI.Com

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang menjadi identitas, sehingga diperlukan pemahaman wawasan Nusantara sebagai nilai dasar ketahanan nasional serta sebagai pemersatu keragaman budaya bangsa. Budaya Indonesia dapat menjadi pemersatu apabila kita memiliki rasa bangga terhadap budaya yang kita miliki termasuk budaya saling hormat menghormati satu sama lain. Hal itu yang diharapkan oleh para pendiri negri ini.

Sebagai Budayawan, pskiater dan kejiwaan, Drs Bambang Diponegoro mengatakan bahwa, Budaya PERPOLITIKAN nasional kita saat ini, sungguh menyedihkan. Dalam pulasan besar bahwa kita melihat fenomena betapa banyak pihak yang berkepentingan dengan kekuasaan seolah terperangkap pada satu pemahaman, segala cara dan alat dihalalkan untuk merebut kekuasaan.

” Fenomena sikap dan tindakan para politisi seperti ini membuat kita hafal sejumlah kata sifat, Apa itu, Kata itu adalah: Fitnah, Intrik, dan terakhir yang kian popular di negeri ini adalah Hoak.” ucapnya.

” Hal ini tentunya tak ada asap tanpa api. Jika kata sifat yang kini memenuhi kepala masyarakat itu sebagai asapnya, maka ucapan dan tindakan para elite politik bersama timnya adalah sumber apinya.” Lanjut Pakar Kejiwaan yang akrab dipanggil Dipo Ini.

Menurut saya, peristiwa politik seperti Pilpres dan Pileg, seharusnya disadari sebagai sebuah peristiwa budaya. Di situ ada sistem nilai yang dipraktikkan. Di situ ada sistem sosial yang bekerja.

“Dari situlah akan dilahirkan karya berupa tatanan negara dan tatanan masyarakat adil dan makmur dan dari situ pula akan dilahirkan pemimpin sebagai pemikul amanah pendiri Negeri ini.” Jelasnya lebih lanjut

Dari situ kita makin membentuk jiwa Nasional kita secara utuh dan tiga dimensi.

Dengan peristiwa politik yang memperjuangkan kemaslahatan orang banyak itu pula kita menjadi bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, yang telah memberi kemerdekaan kepada bangsa ini serta memberi karunia alam yang indah dan kaya, gemma Ripah Loh Jinawi.

Bukan justru melahirkan pertikaian, permusuhan dan kerusakan. Begitulah menurut saya bahwa peristiwa Pemilu seharusnya menjadi sebuah peristiwa kebudayaan yang besar yang bisa membentuk karakter dan kejiwaan kita.

Ada banyak cara untuk merawat dan menjaga integrasi nasional yang ada di indonesia , Agar integrasi nasional dapat bertahan , kita dapat mempertahankannya salah satunya dengan mempertahankan kesatuan indonesia . Walaupun kita memiliki budaya yang berbeda – beda , tetapi kita semua merupakan warga indonesia dan kita memiliki kewajiban untuk bersatu sesuai dengan semboyan bhinneka tunggal ika.

Sebagai bangsa yang besar dengan penduduk yang beraneka ragam Budayanya, Pemilu serentak tahun 2019, satu satunya didunia yang dilakukan hanya satu hari, maka semua pihak harus bangga bahwa Negara kita bisa lakukan hal ini,

Seperti halnya yang terjadi saat ini, hasil hitung cepat (quick count) telah keluar di sejumlah lembaga survei. Agar Suasana tidak gaduh diharapkan para pendukung dari kedua kubu capres, Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, untuk tidak mengklaim hasil pilpres sebelum pengumuman resmi yang dikeluarkan KPU.

“Untuk menghindari potensi ketegangan baru antar pendukung, semua pihak tidak melakukan klaim-klaim dan perayaan berlebihan. Semua pihak tetap menunggu proses penghitungan manual yang dilakukan oleh KPU. Jika Jokowi hanya bersyukur atas QC (quick count), Prabowo justru menentang, begitu juga sebaliknya, Ini suatu sikap normatif para calon dalam merespons hasil pemilihan, yang diharapkan tidak membakar emosi pendukung,” Ungkap Lebih lanjut,

Ia meminta agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempercepat penghitungan suara Pilpres 2019. Hal itu tidak lain guna menghindari pertentangan saling mengklaim menang yang terjadi di antara dua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Meski begitu, Bambang Diponegoroo sebagai Pakar Kejiwaan dan Pskiater optimis aparat gabungan dari TNI-Polri bisa mengamankan situasi pasca-Pemilu seperti sebelum pelaksanaan sampai pada hari pencoblosan. (AG)

Tinggalkan Balasan